Di One Piece, ada satu kerajaan kuno yang begitu kuat sampai pemerintah dunia memilih satu hal yang lebih mudah daripada melawannya: menghapusnya dari sejarah. Namanya dilarang disebut, catatannya dipecah dan disembunyikan, sampai yang tersisa cuma rumor dan ketakutan. Yang menarik bukan kerajaannya, tapi reaksinya. Sebuah kekuatan besar yang sudah runtuh pun masih dianggap cukup berbahaya untuk tidak boleh dipahami.
Kata “khilafah utsmaniyah” sering diperlakukan persis seperti itu di linimasa kita: dieluk-elukkan sebagai surga yang hilang oleh satu pihak, ditakuti sebagai monster yang bisa bangkit oleh pihak lain, tapi jarang sekali benar-benar dibaca sebagai sejarah. Padahal ia bukan rumor. Ia imperium nyata yang berdiri lebih dari enam abad, mencatat puncak yang memukau dan kejatuhan yang menyakitkan, lalu resmi berakhir pada 1924. Tulisan ini mencoba membacanya apa adanya, tanpa kacamata rindu maupun kacamata takut.
Khilafah Utsmaniyah: Sebuah Imperium yang Lahir dari Kabilah Kecil
Khilafah Utsmaniyah (sering juga disebut Kekhalifahan Ottoman, dari nama pendirinya) tidak lahir sebagai raksasa. Ia bermula sekitar tahun 1299 dari sebuah kepemimpinan kecil di Anatolia, di bawah Utsman bin Ertughrul, tokoh yang namanya kemudian melekat pada seluruh dinasti. Pada awalnya ia hanya satu di antara banyak kerajaan kecil di perbatasan, jauh dari kesan adidaya.
Yang membuatnya tumbuh bukan keajaiban, melainkan kombinasi yang sangat duniawi: kepemimpinan yang ulet, organisasi militer yang disiplin, dan kemampuan menyerap beragam suku dan budaya ke dalam satu sistem. Dari sebuah kabilah perbatasan, ia perlahan mencaplok wilayah, menata pemerintahan, dan berubah menjadi negara besar lintas generasi.
Penting dicatat sejak awal: gelar “khilafah” tidak otomatis menempel sejak hari pertama. Pada mulanya para penguasa Utsmani lebih dikenal sebagai sultan. Klaim atas jabatan khalifah, pemimpin yang menggantikan fungsi kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan umat, dikukuhkan secara bertahap, terutama setelah Sultan Selim I menundukkan Mesir pada 1517 dan warisan kekhalifahan dari Kairo berpindah ke tangan Utsmani. Kalau makna dasar kata ini belum jelas bagimu, saya pernah menguraikannya tersendiri di Khilafah Artinya: Bukan Sekadar “Kerajaan Islam”.
Puncak Kejayaan Khilafah Utsmaniyah
Setiap peradaban punya babak puncaknya, dan bagi khilafah utsmaniyah, puncak itu terbentang kira-kira dari pertengahan abad ke-15 hingga abad ke-16. Dua nama biasanya menjadi penanda.
Yang pertama Sultan Mehmed II, yang dijuluki Al-Fatih (Sang Penakluk). Pada 1453 ia menaklukkan Konstantinopel, kota berbenteng yang berabad-abad dianggap tak tertembus. Peristiwa ini bukan sekadar kemenangan militer; ia menutup satu era dunia dan membuka era lain, sekaligus menjadikan Utsmani kekuatan yang diperhitungkan dari Eropa hingga Asia.
Yang kedua Sultan Sulaiman, yang di Barat dikenal sebagai the Magnificent dan di dunia Islam dijuluki Al-Qanuni (Sang Pembuat Hukum). Di masanya pada abad ke-16, imperium ini mencapai bentangan terluasnya, membentang di tiga benua: sebagian Eropa, Asia Barat, dan Afrika Utara. Bukan cuma luas wilayah. Periode ini juga ditandai penataan hukum, pembangunan arsitektur megah, dan kehidupan ilmu serta seni yang semarak.
Pada puncaknya, ia bukan dongeng. Ia kekuatan dunia yang nyata, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Tapi justru di sinilah kejujuran sejarah diuji. Mudah sekali mengubah babak puncak ini menjadi nostalgia yang menutup mata: seolah seluruh enam abad itu satu garis lurus penuh cahaya. Kenyataannya tidak. Di balik kemegahan ada juga intrik istana, peperangan berdarah, dan ketidakadilan, sebagaimana lazimnya kekuasaan manusia mana pun. Memuji puncaknya boleh; berbohong tentang sisanya tidak.
Kemunduran Khilafah Utsmaniyah: Kenapa Raksasa Bisa Layu
Kalau ada satu bagian yang paling sering dilompati dalam kisah heroik, ini bagiannya: kemunduran. Setelah abad ke-16, kekuatan khilafah utsmaniyah perlahan menurun, bukan dalam semalam, melainkan dalam proses panjang berabad-abad.
Sebab-sebabnya berlapis. Dari dalam: melemahnya kepemimpinan di sebagian periode, perebutan kekuasaan di istana, korupsi, dan yang sering disorot para pengkaji, tertinggalnya dunia Islam dalam pengembangan ilmu dan teknologi justru ketika Eropa sedang melaju cepat. Dari luar: tekanan militer dan ekonomi negara-negara Eropa yang menguat, hingga akhirnya imperium ini dijuluki dengan getir sebagai “Si Sakit dari Eropa” pada abad ke-19. Berbagai upaya pembaruan memang dilakukan, tetapi tidak cukup membendung arus kemunduran.
Bagi seorang Muslim, pola naik-turun ini bukan kejutan. Al-Qur’an justru menyebutnya sebagai sunnah yang berlaku atas seluruh manusia:
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
Wa tilkal-ayyāmu nudāwiluhā bainan-nās.
"Dan masa itu Kami pergilirkan di antara manusia."
Masa kejayaan dan kekalahan, kata ayat ini, dipergilirkan. Tidak ada bangsa atau dinasti yang dijanjikan abadi di atas puncak hanya karena pernah berada di sana. Maka kemunduran Utsmani bukan bukti bahwa konsepnya batil, sebagaimana kejayaannya bukan jaminan bahwa setiap kebijakannya benar. Keduanya adalah fakta sejarah yang harus dibaca utuh, bukan dipilih sesuai selera.
Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada 1924
Babak terakhir datang bersama Perang Dunia I. Utsmani berdiri di pihak yang kalah, dan kekalahan itu mempercepat keruntuhan yang sudah lama menggerogoti dari dalam. Wilayahnya tercerai-berai, dan pusat kekuasaannya di Anatolia memasuki masa pergolakan besar.
Di tengah pergolakan itu muncul gerakan nasionalis di bawah Mustafa Kemal Atatürk. Kesultanan dihapuskan pada 1922, Republik Turki diproklamasikan pada 1923, dan pada 3 Maret 1924, Majelis Nasional Turki secara resmi menghapus jabatan khilafah. Khalifah terakhir, Abdülmecid II, diasingkan ke luar negeri. Dengan itu, institusi yang telah berdiri lebih dari enam abad, dan yang secara formal mengemban gelar khilafah selama berabad-abad terakhirnya, dinyatakan berakhir.
Tahun 1924 inilah yang sering disebut sebagai “runtuhnya khilafah” dalam diskusi umat sampai hari ini. Penting dicatat: yang dihapus adalah sebuah institusi negara dalam konteks sejarah dan politik tertentu, bukan konsep khilafah sebagai pembahasan keilmuan, yang sudah ada jauh sebelum Utsmani lahir dan tetap dikaji para ulama sesudahnya.
Membaca Khilafah Utsmaniyah dengan Jujur
Lalu apa gunanya semua ini buat kita yang hidup seabad kemudian? Bukan untuk meratapi masa lalu, dan bukan pula untuk membangun dongeng. Al-Qur’an memberi satu instruksi yang sangat sehat tentang cara membaca sejarah:
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ
Afalam yasīrū fil-ardhi fayanzurū kaifa kāna 'āqibatul-ladhīna min qablihim.
"Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka."
Ayat ini mengajak “berjalan” menelusuri jejak peradaban dan “memperhatikan” kesudahannya, bukan untuk dipuja, bukan untuk ditakuti, tapi untuk diambil pelajarannya. Maka mari uji kisah ini dengan alat yang sama yang dipakai di situs ini, Tiga Pilar Kebenaran: ada fakta, ada dalil, dan ada kesesuaian.
Faktanya, khilafah utsmaniyah adalah imperium historis yang berdiri sekitar 1299, mencapai puncak pada abad ke-15 hingga ke-16, menurun selama berabad-abad, dan resmi dibubarkan pada 1924. Dalilnya, Al-Qur’an memang menetapkan bahwa kejayaan dan kekalahan dipergilirkan, dan memerintahkan kita memetik pelajaran dari peradaban terdahulu. Kesesuaiannya, dua hal ini bertemu di kesimpulan yang dewasa: Utsmani bukan surga yang hilang yang harus diratapi tanpa kritik, dan bukan pula monster yang namanya cukup membuat panik. Ia sebuah institusi manusiawi, yang pernah jaya, pernah lalai, lalu usai.
Dan dari sini, dua keliru yang berlawanan jadi terlihat jelas. Yang pertama keliru memuja: membayangkan bahwa cukup memasang kembali papan namanya, semua masalah umat selesai. Padahal khilafah, dalam definisi para ulamanya, lebih tepat dipahami sebagai sarana, bukan tujuan akhir, seperti pernah saya uraikan di Khilafah Itu Wudhu, Bukan Shalat. Yang kedua keliru menakuti: menolak bahkan membaca sejarahnya, seolah memahami sebuah peradaban sama dengan mendaftar ke sebuah barisan. Padahal keduanya jelas berbeda.
Pada akhirnya, mempelajari runtuhnya sebuah peradaban besar selalu menyisakan satu pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar tanggal dan nama: kenapa umat yang pernah memimpin dunia bisa kehilangan arah, dan apa sebenarnya yang patut dirisaukan dari situ? Pertanyaan itu saya buka tersendiri di Qadhiyah Mashiriyah: Pertanyaan Nasib yang Kita Hindari. Dan untuk menempatkan Utsmani dalam gambaran menyeluruh, dari makna kata khilafah sampai keseluruhan babak sejarahnya, ada panduan lengkap apa itu khilafah. Untuk pembahasan yang lebih bersumber dan akademis seputar tema serupa, kamu juga bisa menengok situs saudara kami, kajianpemikiran.org.
Lain kali “khilafah utsmaniyah” lewat di linimasamu, entah dirindukan entah ditakuti, tahan sebentar. Ia bukan rumor yang harus disensor dari ingatan, juga bukan mantra yang cukup diucapkan untuk memanggil kembali masa lalu. Ia sejarah. Dan sejarah, sebagaimana perintah Al-Qur’an, dibaca untuk diambil pelajarannya, bukan untuk diperebutkan sebagai senjata.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kapan khilafah utsmaniyah berdiri dan runtuh?
Khilafah Utsmaniyah berdiri sekitar tahun 1299 dari sebuah kepemimpinan kecil di Anatolia di bawah Utsman bin Ertughrul, dan resmi dibubarkan pada 3 Maret 1924 oleh Majelis Nasional Turki. Rentang ini menjadikannya salah satu imperium terlama dalam sejarah, lebih dari enam abad.
Siapa yang membubarkan khilafah utsmaniyah?
Jabatan khilafah dihapus oleh Majelis Nasional Turki di bawah gerakan nasionalis pimpinan Mustafa Kemal Atatürk. Kesultanan lebih dulu dihapus pada 1922, Republik Turki diproklamasikan pada 1923, lalu jabatan khilafah dibubarkan pada 1924 dan khalifah terakhir, Abdülmecid II, diasingkan.
Apa penyebab kemunduran khilafah utsmaniyah?
Penyebabnya berlapis dan berlangsung berabad-abad: dari dalam berupa melemahnya kepemimpinan, intrik kekuasaan, korupsi, dan tertinggalnya pengembangan ilmu serta teknologi; dari luar berupa tekanan militer dan ekonomi negara-negara Eropa yang menguat. Kekalahan dalam Perang Dunia I mempercepat keruntuhan yang sudah lama berlangsung.
Apakah khilafah utsmaniyah sama dengan konsep khilafah dalam Islam?
Tidak persis sama. Khilafah Utsmaniyah adalah satu perwujudan historis dan politis tertentu dari kepemimpinan umat, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Adapun khilafah sebagai konsep adalah pembahasan keilmuan Islam yang sudah ada jauh sebelum Utsmani lahir dan tetap dikaji sesudah 1924. Membahas konsepnya tidak otomatis berarti membela satu bentuk sejarah atau organisasi mana pun.