Di tulisan tentang negara sebagai pengurus rezeki saya bilang kisah Nabi Yusuf akan saya bahas tersendiri. Sekarang waktunya. Sebab kisah ini bukan sekadar dongeng yang manis untuk anak-anak, melainkan satu bukti telanjang yang sulit dibantah: seorang nabi, di puncak keimanannya, sengaja meminta jabatan untuk mengurus gudang pangan sebuah negeri. Kalau mengurus harga dan periuk rakyat benar-benar menodai tauhid, kisah ini mestinya tidak pernah diabadikan Al-Quran sebagai kebaikan.
Bermula dari Sebuah Ramalan Ekonomi
Semuanya bergerak dari sebuah mimpi raja Mesir yang tak seorang pun bisa membacanya: tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus, tujuh tangkai hijau dan tujuh tangkai kering. Yusuf, yang saat itu masih di penjara, dimintai tafsirnya. Dan tafsirnya bukan ramalan gaib yang berhenti di kata “akan terjadi”. Ia langsung berupa rencana kerja:
قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدتُّمْ فَذَرُوهُ فِي سُنبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأْكُلُونَ
Qāla tazra'ūna sab'a sinīna da'abā, famā ḥaṣadtum fadzarūhu fī sumbulihī illā qalīlam mimmā ta'kulūn.
"Yusuf berkata: 'Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan'."
Perhatikan betapa teknisnya. Bukan “berdoalah agar paceklik tak datang”, melainkan “tanam terus, simpan hasilnya tetap di bulirnya supaya awet, dan tahan konsumsi seperlunya”. Itu kebijakan ketahanan pangan, lengkap dengan metode penyimpanan agar gandum tak cepat rusak. Lalu Yusuf menjelaskan kenapa langkah itu mendesak:
ثُمَّ يَأْتِي مِن بَعْدِ ذَٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تُحْصِنُونَ
Tsumma ya'tī mim ba'di dzālika sab'un syidādun ya'kulna mā qaddamtum lahunna illā qalīlam mimmā tuḥṣinūn.
"Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit itu), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan."
Inilah perencanaan jangka panjang dalam bentuknya yang paling murni: membaca masa depan ekonomi, lalu menyiapkan cadangan hari ini untuk menahan guncangan tujuh tahun ke depan. Seorang nabi melakukannya, dan Al-Quran merekamnya sebagai puncak kearifan, bukan sebagai kekurangan iman.
Lalu Ia Meminta Jabatan untuk Menjalankannya
Yang lebih mengejutkan datang setelah itu. Yusuf tidak berhenti pada nasihat lalu kembali ke penjara. Ia tahu rencana sebaik apa pun butuh tangan yang mengeksekusi, dan ia menawarkan dirinya untuk tangan itu:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Qālaj'alnī 'alā khazā'inil-arḍi innī ḥafīẓun 'alīm.
"Berkata Yusuf: 'Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan'."
Khazā’inul-arḍi, gudang-gudang negeri. Yusuf meminta otoritas atas stok pangan, cadangan, dan distribusinya. Dan alasan yang ia kemukakan bukan “aku paling bertakwa”, melainkan dua sifat yang sangat membumi: ḥafīẓ (cakap menjaga, amanah) dan ‘alīm (berpengetahuan, paham seluk-beluk pekerjaannya). Ia menawarkan kompetensi dan integritas untuk sebuah jabatan teknis ekonomi. Tidak ada satu pun isyarat bahwa pekerjaan ini menurunkan derajat kenabiannya. Justru sebaliknya, di sinilah salah satu wujud kenabiannya bekerja untuk orang banyak.
Ketika paceklik benar-benar datang, gudang-gudang yang ia isi di masa subur itulah yang menyelamatkan Mesir dari kelaparan, bahkan menjadi tujuan negeri-negeri tetangga yang kekurangan, termasuk keluarga Yusuf sendiri dari tanah Kanaan. Kebijakan yang ia rancang di atas kertas tujuh tahun sebelumnya berubah menjadi nyawa bagi ribuan orang.
Tiga Hal yang Berdiri Bersama dalam Satu Kisah
Yang membuat kisah ini begitu pas untuk seri ini adalah karena ia merangkum seluruh tesis kita dalam satu sosok. Ingat dua kata yang sempat hilang di unggahan “rezeki dari Allah, bukan presiden”: sebab dan tanggung jawab. Pada diri Yusuf, keduanya hadir utuh bersama tauhid, tanpa saling membatalkan.
Tauhidnya tidak diragukan. Ia tahu betul rezeki dan jalan keluar datang dari Allah, dan ia tidak pernah menepuk dada bahwa keselamatan Mesir adalah karya kepintarannya semata. Tetapi keyakinan itu tidak membuatnya berdiam diri. Ia menempuh sebab dengan sangat serius: menghitung, menyimpan, merancang metode, mengelola distribusi. Dan ia memikul tanggung jawab, yaitu ri’ayah, dengan mengambil amanah mengurus hajat hidup orang banyak. Kalau “menempuh sebab” dianggap mengurangi tauhid, sebagaimana sudah saya bantah di tulisan tentang Musabbib dan sebab, maka Yusuf adalah bantahan yang berjalan. Kalau “mengurus pangan rakyat bukan urusan penguasa”, maka Yusuf adalah nabi yang justru meminta urusan itu.
Ada juga pelajaran halus tentang tawakal di sini. Orang sering mengira merencanakan masa depan, menabung untuk masa sulit, atau menyiapkan cadangan adalah tanda kurang pasrah kepada takdir. Kisah Yusuf membantahnya dengan tenang. Menyimpan gandum untuk tujuh tahun paceklik bukan bentuk tidak percaya pada Allah, melainkan bentuk menjalankan sunnatullah yang Allah sendiri ajarkan lewat lisan nabi-Nya. Tawakal yang benar berjalan beriringan dengan perencanaan, bukan menggantikannya.
Pagar: Teladan Akhlak, Bukan Amunisi
Seperti tulisan-tulisan sebelumnya di seri ini, saya pasang pagar agar kisah indah ini tidak diseret ke tempat yang salah.
Kisah Yusuf di sini saya hadirkan sebagai teladan karakter dan kearifan, yaitu bagaimana iman, ikhtiar, dan amanah bisa berdiri bersama dalam satu pribadi. Ia bukan saya hadirkan sebagai stempel untuk menghakimi pemimpin tertentu, bukan pula sebagai senjata untuk menyimpulkan “karena itu pemerintah sekarang gagal”. Membandingkan kualitas ri’ayah memang sah dilakukan dengan ilmu dan adab, tapi itu pekerjaan lain yang punya tempatnya sendiri, dan bukan maksud tulisan ini. Menyulap kekaguman pada Yusuf menjadi bahan bakar kebencian pada sosok hari ini adalah jurang yang justru mengkhianati akhlak Yusuf itu sendiri, sosok yang bahkan memaafkan saudara-saudara yang pernah membuangnya ke sumur.
Pola yang sama, menariknya, terulang di panggung sejarah nyata pada diri Umar bin Khattab saat mengurus harga dan pangan rakyat, seorang khalifah yang bukan nabi namun memikul amanah ri’ayah dengan cara serupa.
Maka biarkan kisah ini berdiri sebagai apa adanya: bukti bahwa mengurus pangan dan ekonomi rakyat adalah pekerjaan mulia yang pernah dipikul seorang nabi, dan bahwa iman yang benar tidak pernah melahirkan sikap berdiam diri di hadapan kesulitan orang banyak. Yusuf tidak berkata “rezeki sudah dijamin, untuk apa repot”. Ia menyingsingkan lengan, mengisi lumbung, dan menyelamatkan satu negeri. Itulah rupa tauhid yang dibaca sampai habis.