EE-RankTergugah · LEVEL
Tabayyun 15 Juni 2026 5 mnt baca
Arc Kebangkitan & Dakwah · Bagian 2 dari 13

Musabbib dan Sebab: Mengambil Ikhtiar Bukan Kurang Tauhid

Kalau semua sudah ditakdirkan, untuk apa repot menempuh sebab? Justru di sinilah satu konsep tauhid sering ketukar: Allah Pencipta sebab, dan sebab tetap wajib ditempuh.

Musabbib dan Sebab: Mengambil Ikhtiar Bukan Kurang Tauhid
Daftar Isi

Di tulisan tentang unggahan “rezeki dari Allah, bukan presiden” saya bilang ada satu kata yang hilang di tengah kalimat: sebab. Begitu tulisan itu beredar, datang sanggahan yang sebenarnya jujur dan layak dijawab dengan serius: “Bukankah kalau kita sibuk memikirkan sebab, kurs, harga, kebijakan, itu malah mengurangi tauhid? Bukankah yang lebih bertauhid justru menyerahkan semuanya kepada Allah dan tidak ngoyo pada sebab?”

Kartu klaim anonim bertuliskan 'Buat apa sibuk mengejar sebab? Semua sudah ditakdirkan. Yang penting tawakal, sebab tak akan mengubah takdir', dengan nama penulis sengaja diburamkan sebagai blok redaksi.
Keberatan yang sering muncul, dan kami anonimkan penulisnya: yang ditimbang gagasannya, bukan orangnya. Pertanyaan ini sehat, dan jawabannya justru menenangkan.

Ini bukan pertanyaan yang patut diejek. Ia lahir dari niat baik: takut mengandalkan selain Allah. Tapi di balik niat baik itu ada satu konsep tauhid yang sering ketukar, dan kalau dibiarkan, ia bisa membalik perintah Allah jadi seolah-olah pelanggaran. Tulisan ini ingin merapikan satu pembedaan tua yang sudah lama dijaga para ulama: antara Musabbib dan sabab.

Dua Kata yang Sering Ketukar

Allah adalah Musabbibul-asbab, Pencipta dan Pengatur segala sebab. Dialah yang menetapkan bahwa api punya sifat membakar, air punya sifat menghilangkan dahaga, dan dagangan yang ditawarkan dengan baik punya peluang laku. Sifat-sifat itu tidak bekerja sendiri secara mandiri lepas dari Allah. Apilah yang menyentuh, tapi Allah yang menjadikannya membakar. Para ulama tauhid menjaga betul titik ini, karena di sinilah letak bedanya seorang muslim dari seorang penyembah sebab.

Tetapi, dan inilah yang sering dilupakan, Allah yang sama itu juga yang memerintahkan kita menempuh sebab. Dia tidak menyuruh kita duduk menunggu hasil jatuh dari langit. Lihat bagaimana Allah memperlakukan Maryam, seorang perempuan yang baru saja melahirkan, sendirian, lemah, di bawah pohon kurma:

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

Wa huzzī ilaiki bijidz'in-nakhlati tusāqiṭ 'alaiki ruṭaban janiyyā.

"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu."

QS Maryam [19]: 25

Renungkan janggalnya, kalau logika “buang sebab demi tauhid” itu benar. Allah sanggup menjatuhkan kurma itu tanpa Maryam menyentuh apa pun. Ini momen mukjizat, bayi yang lahir tanpa ayah baru saja terjadi. Tapi di tengah mukjizat itu, Allah tetap menyuruh Maryam menggoyang pohonnya. Perempuan yang sedang selemah-lemahnya itu tetap diminta menempuh sebab, sekecil apa pun tenaganya. Kalau menempuh sebab itu mengurangi tauhid, ayat ini mestinya berbunyi “diamlah, dan kurma akan jatuh sendiri”. Tapi ia tidak berbunyi begitu.

Mengambil Sebab Tidak Menyaingi Allah

Akar ketakutan tadi adalah perasaan bahwa kalau kita berusaha, seolah-olah kita sedang ikut “mencipta” hasil, dan itu mengurangi peran Allah. Padahal Al-Quran menutup pintu kekhawatiran itu dari akarnya:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Wallāhu khalaqakum wa mā ta'malūn.

"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat."

QS Ash-Shaffat [37]: 96

Bahkan usahamu sendiri adalah ciptaan Allah. Tangan yang bekerja, akal yang menghitung, langkah yang menempuh pasar, semuanya Dia yang menciptakan. Maka menempuh sebab bukanlah menyaingi Allah, justru ia adalah menjalankan apa yang Allah ciptakan pada dirimu untuk dijalankan. Tidak ada perebutan kuasa di sini. Yang bekerja hamba, yang menciptakan kerja dan hasilnya tetap Allah. Inilah kenapa “ikat dulu untamu, baru bertawakal” tidak pernah dianggap mengurangi tawakal, sebagaimana sudah saya bahas di Tawakal Bukan Obat Bius. Mengikat unta itu menempuh sebab; bertawakal itu menggantungkan hasilnya pada Allah. Keduanya berjalan bersama, bukan saling membatalkan.

Ibnul Qayyim merangkum seluruh persoalan ini dalam satu kalimat yang tajam, dan ia memetakan dua jurang sekaligus:

الِالْتِفَاتُ إِلَى الْأَسْبَابِ شِرْكٌ فِي التَّوْحِيدِ، وَمَحْوُ الْأَسْبَابِ أَنْ تَكُونَ أَسْبَابًا نَقْصٌ فِي الْعَقْلِ، وَالْإِعْرَاضُ عَنِ الْأَسْبَابِ بِالْكُلِّيَّةِ قَدْحٌ فِي الشَّرْعِ

Al-iltifātu ilal-asbābi syirkun fit-tauḥīd, wa maḥwul-asbābi an takūna asbāban naqṣun fil-'aql, wal-i'rāḍu 'anil-asbābi bil-kulliyyati qadḥun fisy-syar'.

"Bergantung penuh kepada sebab adalah syirik dalam tauhid; mengingkari sebab sebagai sebab adalah kekurangan akal; dan berpaling dari sebab sama sekali adalah celaan terhadap syariat."

Ibnul Qayyim, Madarijus Salikin

Perhatikan, Ibnul Qayyim tidak hanya menutup satu pintu, ia menutup dua sekaligus. Bergantung penuh pada sebab sampai lupa Penciptanya itu cacat tauhid. Tapi membuang sebab sama sekali dengan dalih kesempurnaan tauhid itu, dalam bahasanya yang keras, “celaan terhadap syariat”, karena syariat sendiri yang menyuruh menempuh sebab. Jalan yang lurus tidak ada di salah satu ujung, melainkan di tengah: ambil sebabnya dengan sungguh-sungguh, gantungkan hatinya pada Sang Pemberi.

Ilustrasi dua sikap pada sebuah tuas. Di kiri tuas dibiarkan tanpa ditekan sehingga bintang hasil tetap di bawah dan redup (MENOLAK SEBAB, hasil tak terangkat). Di kanan tuas ditekan oleh usaha sehingga bintang hasil terangkat tinggi dan menyala, dengan garis tipis menuju ke atas (AMBIL SEBAB, hati tetap ke Allah).
Tuas yang sama. Dibiarkan, hasilnya tak terangkat. Ditekan dengan usaha, ia naik, dan hati tetap menggantung ke atas.

Kembali ke Soal Rezeki dan Harga

Sekarang konsep ini bisa kita pulangkan ke persoalan yang memicunya. Saat harga naik dan hidup menyempit, sikap yang lebih bertauhid bukanlah “abaikan sebab, semua sudah ditakdirkan, untuk apa repot”. Sikap yang lebih bertauhid justru menempuh sebab dengan lebih sungguh: bekerja lebih cerdas, mengelola yang ada lebih cermat, dan, ya, menggunakan akal untuk menilai mana kebijakan yang membantu rakyat dan mana yang menyusahkan, sambil hati tetap yakin bahwa Sang Pemberi rezeki adalah Allah, bukan kurs dan bukan jabatan.

Menolak menempuh sebab lalu menamainya tawakal, sebenarnya bukan tauhid yang lebih tinggi. Ia adalah salah satu wujud dari penyakit berpikir yang sama yang sudah kita lihat berkali-kali di seri ini: sebuah kebenaran, yaitu “Allah Pencipta segalanya”, dipakai untuk membuang separuh ajaran, yaitu “dan Dia menyuruhmu menempuh sebab”. Begitu satu sisi dibuang, yang tersisa terdengar khusyuk tapi sebenarnya pincang. Kalau ditimbang dengan tiga pilar kebenaran, klaim “menempuh sebab mengurangi tauhid” itu gugur di pilar dalil, karena ada ayat yang dengan terang menyuruh Maryam menggoyang pohonnya.

Pagar: Dua Jurang yang Sama-sama Saya Tolak

Seperti biasa, saya pasang pagar di dua sisi.

Jurang pertama adalah yang baru kita bahas: membuang sebab dengan dalih tawakal, sampai-sampai usaha dianggap mengganggu kepasrahan. Itu bukan kepasrahan, itu kemalasan yang dipakaikan jubah agama, dan ia menabrak perintah syariat.

Jurang kedua arahnya berkebalikan: menggantungkan hati sepenuhnya pada sebab sampai lupa siapa yang menciptakannya. Orang yang bekerja mati-matian lalu yakin keberhasilannya murni karena kepintaran dan kerja kerasnya sendiri, lalu lupa bersyukur dan lupa bahwa hasil itu pemberian, sedang berdiri di jurang yang lain. Itulah yang Ibnul Qayyim sebut sebagai cacat tauhid. Mengambil sebab dengan sekuat tenaga, dan menyandarkan hasilnya bulat-bulat kepada Allah, itu dua gerakan yang harus terjadi bersamaan, bukan dipilih salah satu.

Maka letak yang lurus selalu sama bentuknya: pegang keduanya. Tangan menempuh sebab sekuat mungkin, hati bergantung pada Musabbib-nya sepenuhnya. Itu bukan tauhid yang berkurang. Itu tauhid yang berdiri di atas kedua kakinya, bukan yang berjingkat di satu kaki sambil mengira dirinya sedang terbang.

Penulis
Raja Baya

Menulis dari bayang. Pesta sejati ada di hati yang sadar.

Tulisan ini adalah eksplorasi pemikiran dan diskusi akademis-keagamaan. Tidak bertujuan rekrutmen organisasi apapun. Pembaca diharapkan berpikir kritis dan merujuk sumber primer.
← Kembali ke semua artikel