Ada satu teka-teki dalam sirah yang sering kita lewati. Pesan yang sama, dibawa misi yang sama, disampaikan dengan kesabaran luar biasa, ditolak Mekkah selama tiga belas tahun. Lalu pesan itu sampai ke Madinah lewat satu orang utusan, dan dalam waktu yang jauh lebih singkat kota itu berubah jadi tanah tempat Islam berdiri tegak. Apa yang berbeda?
Jawaban yang gampang adalah “ya memang sudah takdirnya begitu”. Itu benar, tapi tidak menjelaskan apa-apa. Sebab di balik takdir selalu ada sebab-sebab yang bisa kita baca, dan justru di sebab-sebab itulah pelajarannya tersimpan. Kalau kamu telusuri, perbedaan Mekkah dan Madinah berpusat pada dua hal yang sangat manusiawi: siapa yang diutus, dan ke tanah seperti apa ia diutus. Dan nama yang menjembatani keduanya adalah Mus’ab bin Umair.
Pemuda yang Meninggalkan Segalanya
Sebelum jadi duta, Mus’ab adalah anak muda paling necis di Mekkah. Lahir dari keluarga kaya, pakaiannya termahal, wanginya tercium sebelum orangnya terlihat. Begitu ia masuk Islam dan keluarganya tahu, semua kemewahan itu dicabut darinya. Pemuda yang dulu serba berkecukupan berubah jadi orang yang pakaiannya bertambal-tambal. Tapi yang ia dapat sebagai gantinya jauh lebih besar daripada yang ia lepas.
Ketika rombongan dari Yatsrib, nama Madinah sebelum hijrah, datang dan menyatakan siap menerima Islam, Rasulullah ﷺ perlu mengirim seseorang ke sana untuk mengajarkan Al-Qur’an dan agama. Pilihan jatuh pada Mus’ab. Bukan pada sahabat yang paling tua, bukan yang paling kuat, bukan yang paling berpengaruh secara nasab. Pilihan jatuh pada pemuda yang menguasai bacaan, berakhlak lembut, dan pandai menyampaikan.
Mus’ab, Duta yang Tepat
Kenapa Mus’ab? Karena tugas di Yatsrib bukan tugas menaklukkan, melainkan tugas mengajar dan membentuk pemahaman. Untuk pekerjaan seperti itu, yang dibutuhkan bukan kekuatan fisik atau wibawa keturunan, melainkan ilmu dan kelembutan cara. Mus’ab punya keduanya. Ia mengajak orang dengan tenang, membacakan Al-Qur’an dengan cara yang menyentuh, dan tidak memaksa. Di tangannya, tokoh-tokoh keras Yatsrib yang awalnya datang hendak mengusir justru duduk, mendengar, lalu masuk Islam.
Pilihan ini menegaskan satu hal yang sering kita balik urutannya. Dalam kerja membentuk pemikiran, yang menentukan adalah kualitas orang yang menyampaikan, bukan jumlah atau kerasnya. Al-Qur’an sendiri mengangkat tinggi kedudukan orang berilmu:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Qul hal yastawil-ladhīna ya'lamūna wal-ladhīna lā ya'lamūn.
"Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'"
Mus’ab adalah jawaban hidup dari ayat ini. Ia tidak datang membawa pedang atau pasukan, ia datang membawa bacaan dan pemahaman. Dan itulah tepatnya yang dibutuhkan tanah yang akan ia datangi.
Yang menggerakkan hati di Yatsrib bukan ancaman, tapi seorang pemuda yang membacakan kebenaran dengan tenang. Ilmu yang disampaikan dengan akhlak punya daya yang tidak dimiliki paksaan.
Tanah yang Sudah Siap
Tapi Mus’ab sendiri tidak cukup. Seandainya ia dikirim ke Mekkah untuk menggantikan kerja tiga belas tahun itu, hasilnya belum tentu beda. Sebab variabel kedua sama pentingnya: Yatsrib adalah tanah yang sudah siap, sementara Mekkah tidak.
Apa yang membuat Yatsrib siap? Beberapa hal bertumpuk. Dua suku besarnya, Aus dan Khazraj, sudah letih oleh permusuhan panjang yang memuncak dalam perang saudara; mereka diam-diam merindukan sesuatu yang bisa menyatukan. Mereka juga hidup berdampingan dengan komunitas Yahudi yang sering menyebut akan datangnya seorang nabi, sehingga telinga mereka tidak benar-benar asing ketika kabar itu tiba. Hati yang lelah oleh perpecahan dan sudah punya gambaran samar tentang kebenaran adalah hati yang reseptif. Begitu kebenaran itu sampai dalam bentuk yang jernih, ia menemukan ketenangan yang selama ini dicari:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Alā bidzikrillāhi tathma'innul-qulūb.
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."
Mekkah berbeda. Di sana kepemimpinan Quraisy terikat erat dengan berhala, dengan gengsi keturunan, dan dengan keuntungan ekonomi dari para peziarah. Menerima Islam berarti meruntuhkan seluruh tatanan yang menghidupi mereka. Maka tanahnya keras, bukan karena pesannya lemah, tapi karena di sana kepentingan berdiri tegak di jalan kebenaran.
Dua Variabel, Bukan Keajaiban
Begitu kamu melihat dua hal ini berdampingan, teka-teki di awal tadi terjawab. Madinah menerima dan Mekkah menolak bukan karena keajaiban acak, melainkan karena dua variabel bertemu: ada duta yang tepat, dan ada tanah yang siap menerima. Cabut salah satunya, hasilnya berubah.
Sirah bahkan memperlihatkan bahwa kesiapan tanah ini dicari secara sadar, bukan ditunggu pasif. Setelah penolakan keras di Thaif, Rasulullah ﷺ tetap menawarkan dakwah kepada kabilah demi kabilah di musim haji, berpindah dari satu pintu ke pintu lain sampai bertemu orang-orang Yatsrib yang hatinya terbuka. Ini bukan menyerah dan bukan memaksa, melainkan kepekaan membaca: di mana tanah yang subur, ke sanalah benih ditanam.
Pelajaran intinya sederhana tapi sering terbalik di kepala kita. Kita kerap menyangka dakwah pemikiran gagal karena kurang keras atau kurang ramai. Padahal sering yang kurang adalah dua hal yang dicontohkan Mus’ab dan Yatsrib: penyampai yang benar-benar paham dan berakhlak, serta kesabaran membaca mana hati yang sudah siap. Ini bertaut langsung dengan kenapa membentuk pemikiran tidak bisa diburu-buru, dan kenapa cara pandang dibangun pelan-pelan.
Pagar: Menimba Hikmah, Bukan Menyusun Strategi
Di sini perlu satu kejujuran agar tulisan ini dibaca pada tempatnya. Mengenali “duta yang tepat” dan “tanah yang siap” sebagai pola dalam sirah adalah satu hal. Menjadikannya cetak biru untuk merancang gerakan, memetakan siapa yang harus direkrut, atau menggalang barisan, adalah hal yang sama sekali lain dan sudah keluar dari maksud tulisan ini.
Kisah Mus’ab di sini dibaca sebagai sumber hikmah, bukan manual taktis. Yang ingin saya garis bawahi adalah pelajaran kemanusiaannya: bahwa kebenaran perlu disampaikan dengan ilmu dan akhlak, dan bahwa ia tumbuh paling subur di hati yang sudah siap. Itu pemahaman yang bisa kamu uji, kamu timbang, dan kamu terapkan pada caramu sendiri menyampaikan apa pun yang kamu yakini benar, tanpa harus ikut barisan siapa-siapa. Begitu sebuah pembacaan sirah berubah jadi ajakan menggalang kekuatan terhadap pihak lain, ia sudah melompat keluar dari ruang yang sah, dan tulisan ini berdiri di sisi yang menolak lompatan itu.
Mus’ab mengajarkan cara hati ditaklukkan, bukan cara orang dikerahkan. Yang pertama itu hikmah dakwah, yang kedua bukan urusan tulisan ini.