Coba perhatikan dua tuduhan yang sama-sama sering kamu dengar, padahal arahnya berlawanan. Yang satu bilang: orang beragama itu berhenti berpikir, imannya dibangun di atas “pokoknya percaya”, dan bertanya terlalu jauh dianggap kurang ajar. Yang lain bilang sebaliknya: berpikir kritis itu artinya meragukan segalanya, menolak setiap otoritas, dan menganggap semua jawaban lama sebagai belenggu yang harus dilepas.
Dua-duanya terdengar masuk akal di permukaan. Dua-duanya keliru. Dan menariknya, keduanya gugur oleh hal yang sama: membaca apa yang sebenarnya Islam katakan tentang akal, langsung dari sumbernya, bukan dari kesan yang beredar. Karena begitu kamu turun ke sana, kamu menemukan sesuatu yang tidak diduga oleh kedua kubu itu. Islam tidak sekadar mengizinkan berpikir kritis. Islam memerintahkannya, lalu memberinya sesuatu yang justru hilang dari “berpikir kritis” gaya zaman ini: sebuah jangkar.
Berpikir Itu Perintah, Bukan Kelonggaran
Mari mulai dari yang paling sering disalahpahami. Anggapan bahwa iman menuntut kita mematikan akal itu tidak punya pijakan di teks aslinya. Yang ada justru kebalikannya. Berkali-kali wahyu menutup sebuah argumen dengan tamparan halus yang sama: afalā ta’qilūn, “tidakkah kalian berpikir?”, afalā tatafakkarūn, “tidakkah kalian merenungkan?”. Itu bukan basa-basi. Itu perintah, dan ia diulang dalam puluhan bentuk.
Lihat bagaimana Al-Qur’an memuji satu golongan manusia secara khusus, bukan karena banyak ibadahnya lebih dulu, tapi karena cara mereka memakai akal:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
Inna fī khalqis-samāwāti wal-arḍi wakhtilāfil-laili wan-nahāri la-āyātil li-ulil-albāb.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal."
Ulul albab, orang yang punya inti akal. Mereka dipuji bukan karena diam menerima, tapi karena mereka memandang alam lalu berpikir tentangnya, persis seperti yang dilanjutkan ayat sesudahnya. Dan kalau memuji yang berpikir saja belum cukup tegas, perhatikan bagaimana wahyu menegur mereka yang menolak merenung:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Afalā yatadabbarūnal-Qur'āna am 'alā qulūbin aqfāluhā.
"Maka apakah mereka tidak men-tadabbur (merenungkan dengan dalam) Al-Qur'an, ataukah hati mereka terkunci?"
Tangkap gambarannya. Lawan dari berpikir, di mata wahyu, adalah hati yang terkunci. Bukan iman yang dipuji ketika ia berhenti bertanya, melainkan justru disindir ketika ia menutup diri dari perenungan. Maka tuduhan pertama tadi runtuh sendiri: yang dituntut bukan mematikan akal, tapi menyalakannya sampai dalam.
Dalam Islam, lawan dari iman bukanlah berpikir. Lawan dari iman adalah hati yang terkunci, yang menolak bertanya bahkan kepada dirinya sendiri.
Ini bukan kebetulan. Para pemikir Islam klasik bahkan mendefinisikan manusia sebagai al-insan hayawan natiq, makhluk yang berpikir. Artinya, berpikir bukan tambahan opsional bagi seorang Muslim. Ia adalah inti dari apa yang membuat kita manusia. Mencabutnya bukan kesalehan, itu menanggalkan kemanusiaan.
Tapi “Kritis” yang Mana?
Di sinilah tuduhan kedua perlu diluruskan, dan ini bagian yang lebih halus. Sebab kalau Islam memerintahkan berpikir, apakah itu berarti gaya “berpikir kritis” yang dirayakan hari ini, yaitu meragukan segalanya, menolak setiap otoritas, curiga pada apa pun yang lama?
Ternyata tidak persis. Dan untuk paham bedanya, kita perlu tahu dulu apa sebenarnya “berpikir” itu sebagai sebuah proses. Para pengkaji tafkir merumuskannya begini: berpikir bukan sekadar melihat atau merasakan. Berpikir terjadi ketika penginderaan atas sebuah fakta dipertemukan dengan informasi terdahulu yang menafsirkannya, lalu lahir sebuah penilaian. Tanpa informasi pembanding, mata yang melihat seribu kali tetap cuma melihat, ia tak pernah benar-benar mengerti.
Camkan poin itu, karena ia mengubah segalanya. Kalau berpikir butuh informasi pembanding, maka “meragukan segalanya tanpa pegangan” itu bukan puncak berpikir kritis, melainkan kegagalannya. Orang yang membuang semua patokan tidak sedang berpikir lebih bebas; ia sedang melepas alat yang dengannya penilaian apa pun bisa dibuat. Ia berakhir bukan di kebenaran, tapi di “ah, semuanya relatif”, yang sebenarnya cuma cara elegan untuk berhenti berpikir sambil terlihat sedang berpikir keras.
Ini jebakan yang sudah saya petakan tersendiri di tiga tingkatan berpikir: orang bisa sangat tajam menggali sebab di balik sebab, tapi tanpa prinsip yang menerangi, galian itu cuma membuat lubang yang makin dalam, bukan jalan keluar. Curiga pada segalanya bukan kecerdasan. Itu kelumpuhan yang menyamar jadi kewaspadaan.
Meragukan segalanya bukan berpikir bebas. Itu melepas timbangan, lalu heran kenapa tak ada lagi yang bisa ditimbang.
Disiplinnya: Menguji, Bukan Sekadar Ragu
Lalu apa bentuk berpikir kritis yang dimaksud Islam? Bukan ragu yang mengambang, melainkan uji yang berdisiplin. Bedanya tegas: orang yang ragu menolak untuk memutuskan; orang yang menguji menimbang lalu memutuskan dengan dasar.
Alat ujinya sederhana dan bisa kamu pakai pada klaim apa pun, ayat yang dikutip seseorang, teori yang viral, nasihat orang tua, bahkan keyakinanmu sendiri. Ada tiga hal yang harus dipenuhi sekaligus: ada fakta-nya, ada dalil sebagai standar penilai, dan ada kesesuaian antara keduanya. Gugur satu, gugur klaimnya. (Alat ini saya kupas tuntas di tiga pilar kebenaran, dan ia adalah jantung dari seluruh cara berpikir yang ingin saya rawat.)
Perhatikan apa yang dilakukan disiplin ini. Ia tidak menyuruhmu menelan, tapi juga tidak menyuruhmu menolak membuta. Ia menyuruhmu memeriksa. Sebuah gagasan, dari mana pun datangnya, baru pantas diterima setelah lolos uji, dan baru pantas ditolak setelah gagal uji, bukan karena ia terdengar asing atau kebetulan tak kita sukai. Inilah sebabnya seorang Muslim diminta tidak gegabah menyebarkan apa yang belum ia periksa, dan tidak menilai sesuatu dari kutipan tangan kesepuluh tanpa menyentuh sumber aslinya. (Kenapa membaca sumber asli jadi bagian dari kejujuran berpikir, saya bahas di membaca sumber primer.)
Ada satu pertanyaan kecil yang menjadi penanda apakah kamu sedang menguji atau cuma membela: apa yang bisa membuktikan keyakinan ini salah? Klaim yang jujur selalu punya jawabannya. Klaim yang tidak bisa dibuktikan salah dengan cara apa pun biasanya bukan klaim faktual, melainkan perasaan yang dipakaikan jubah dalil. Berani menanyakan itu pada pendapatmu sendiri, itulah berpikir kritis yang sebenarnya, dan itu jauh lebih berat daripada sekadar mencurigai pendapat orang lain.
Bukan Semua Hal Layak Diragukan dengan Cara yang Sama
Ada satu kekeliruan lagi yang perlu dibereskan, karena ia sering membuat orang menyangka Islam anti-kritis. Berpikir kritis bukan berarti memperlakukan semua hal dengan derajat keraguan yang sama. Sebagian perkara memang sudah pasti (qath’i), dan sebagian lagi terbuka untuk beda pendapat (ijtihadi). Kecakapan berpikir justru terletak pada kemampuan membedakan keduanya, bukan meruntuhkan semuanya.
Mempertanyakan apakah bumi diciptakan dengan tujuan itu berbeda jenis dengan mempertanyakan rincian fikih yang memang para ulama berselisih di dalamnya. Menyamakan keduanya, lalu meragukan yang sudah kokoh seolah ia masih cair, itu bukan ketajaman, itu kebingungan. (Cara memilah mana yang pasti dan mana yang masih terbuka saya uraikan di tingkatan kepastian dalil.)
Bahkan disiplin tafkir membuat catatan yang sering dilupakan: tidak semua perkara diputuskan dengan reflek cepat. Sebuah definisi, sebuah hukum, sebuah perkara teknis, semua itu menuntut perenungan yang sabar, bukan kesimpulan kilat. Kecepatan menyimpulkan bukan tanda kecerdasan; kadang justru sebaliknya. Orang yang paling cepat menghakimi sering adalah orang yang paling malas memeriksa.
Berpikir kritis bukan meragukan segala hal dengan kadar yang sama. Itu tahu mana yang sudah kokoh, mana yang masih terbuka, dan tidak menukar tempat keduanya.
Akal yang Berjangkar
Sekarang kita bisa merangkainya jadi satu. Berpikir kritis dalam Islam berdiri di antara dua jurang, dan dengan sengaja menolak keduanya.
Di satu sisi ada jurang taklid buta, menerima tanpa memeriksa, hati yang terkunci, persis yang ditegur wahyu tadi. Di sisi lain ada jurang keraguan tanpa dasar, menolak segalanya sampai tak ada lagi pijakan untuk berdiri. Yang pertama berhenti berpikir karena takut, yang kedua berhenti berpikir karena hilang patokan. Keduanya, anehnya, sama-sama berakhir di tempat yang sama: tidak benar-benar memutuskan apa-apa.
Jalan ketiganya adalah yang dituju semua ini, yaitu berpikir yang menerangi, mustanir: menguji dengan sungguh-sungguh, tapi dari atas sebuah jangkar. Akal di sini bukan dimatikan dan bukan pula dibiarkan hanyut. Ia menyala paling terang justru karena ia terikat pada standar yang tidak ikut goyah saat keadaan goyah. Itulah kenapa wahyu memerintahkan berpikir sekaligus menyediakan pegangannya, karena akal tanpa pegangan akan kehabisan patokan, dan pegangan tanpa akal cuma jadi hafalan yang tak hidup.
Dan ada satu hal terakhir yang jarang disadari: kemampuan berpikir kritis itu seperti otot, bukan warisan tetap. Ia bisa menguat dengan dilatih, dan bisa melemah kalau dibiarkan. Para pengkaji tafkir mencatat sesuatu yang menohok, bahwa sebuah umat bisa kehilangan kebiasaan berpikir tajam bukan karena akalnya dicabut, akalnya tetap ada, tapi karena dorongan dan lahan untuk memakainya pelan-pelan mati. Ketika kita terbiasa membiarkan orang lain menyimpulkan untuk kita, otot itu mengerut tanpa terasa, sampai suatu hari kita sadar tak lagi sanggup menimbang sendiri.
Akal yang tak pernah dipakai tidak hilang, ia cuma berkarat. Dan orang yang membiarkannya berkarat sedang menyerahkan kesimpulannya untuk ditulis siapa saja.
Kabar baiknya, otot yang mengerut bisa dilatih kembali. Dan itu tidak butuh kejeniusan, cuma kesediaan untuk berhenti menelan dan mulai memeriksa.
Satu Hal untuk Kamu Mulai
Tidak usah menunggu perdebatan besar. Ambil satu keyakinan yang kamu pegang erat hari ini, justru yang paling kamu yakini, lalu ajukan padanya tiga pertanyaan dengan jujur. Apa faktanya, benarkah ia ada? Apa dalil atau standar yang menjadikannya benar? Dan apakah keduanya betul-betul nyambung, atau aku cuma menyukainya lalu mencarikan pembenaran?
Kalau keyakinan itu lolos, ia akan berdiri makin kokoh setelah diuji, dan imanmu bertambah karena kini ia kamu pahami, bukan sekadar kamu warisi. Kalau ia goyah, kamu baru saja menyelamatkan dirimu dari membangun rumah di atas pasir. Dua-duanya keuntungan. Hanya orang yang takut memeriksa yang merugi, karena ia memilih nyaman di atas tidak tahu.
Itulah berpikir kritis dalam Islam: bukan pintu keluar dari iman, tapi pintu masuk ke iman yang kamu mengerti. (Kalau kamu ingin tahu bagaimana cara berpikir ini dilatih sampai jadi kebiasaan seumur hidup, saya lanjutkan di transformasi berpikir.)
Berpikir kritis hanyalah satu sisi dari sebuah pola pikir yang lebih utuh. Keseluruhan petanya, dari mana akal berpijak sampai bagaimana ia menimbang, saya rangkum di cara berpikir Islam.