Pernah suatu kali saya berdebat dengan seseorang yang begitu yakin bahwa sebuah kitab klasik mengatakan hal yang ganjil. Dia mengutipnya dengan percaya diri, lengkap dengan nama pengarang dan nomor halaman. Saya minta dia menunjukkan kalimat aslinya. Dia tidak punya. Yang dia punya hanyalah sebuah utas yang mengutip sebuah video yang menyebut kitab itu. Ketika kalimat aslinya akhirnya kami buka bersama, ternyata maknanya nyaris berkebalikan: ada satu anak kalimat sebelum kutipan itu yang mengubah seluruh arahnya, dan anak kalimat itulah yang hilang sepanjang perjalanan.
Kejadian seperti ini bukan kebetulan langka. Ia terjadi setiap hari, di setiap topik, kepada orang-orang yang sebenarnya jujur dan tidak berniat menipu siapa pun. Mereka hanya menilai sesuatu dari tangan kedua, ketiga, kesepuluh, tanpa pernah menyentuh tangan pertamanya. Dan dari pengalaman berdebat berkali-kali seperti itulah lahir satu disiplin yang sekarang saya pegang erat: kalau mau menilai sebuah gagasan, bacalah sumber aslinya, jangan menghakimi dari ringkasan atau kutipan orang.
Disiplin yang Lahir di Ruang Debat
Disiplin ini tidak datang dari buku teori. Ia datang dari kalah dan menang berkali-kali di ruang adu argumen. Setiap kali sebuah perdebatan macet, hampir selalu akar masalahnya sama: salah satu pihak sedang membela sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia baca utuh. Ia membela tafsiran orang lain tentang teks, bukan teksnya. Begitu teks aslinya dibuka, separuh perselisihan menguap dengan sendirinya, karena ternyata yang diributkan tidak pernah benar-benar ada di sana.
Menariknya, perintah untuk memeriksa sebelum mempercayai ini bukan penemuan modern dan bukan pula gaya saya sendiri. Ia jauh lebih tua, dan ia diletakkan sebagai adab dasar seorang mukmin:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Yā ayyuhalladzīna āmanū in jā'akum fāsiqum binaba'in fa tabayyanū an tuṣībū qaumam bijahālatin fa tuṣbiḥū 'alā mā fa'altum nādimīn.
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
Ayat ini bicara tentang berita yang dibawa orang. Tapi disiplinnya berlaku lebih luas dari itu. Sebuah kutipan yang dipotong, sebuah ringkasan yang menyederhanakan, sebuah terjemahan yang menggeser sedikit makna, semuanya adalah “berita” yang sampai ke kepalamu lewat perantara. Dan ayat ini menyuruh satu hal sederhana sebelum kamu menjatuhkan penilaian: tabayyun, periksa dulu sampai ke sumbernya, baru bersikap. Bukan karena kita berburuk sangka pada setiap perantara, tapi karena harga dari salah menilai itu mahal, dan penyesalannya datang belakangan.
Bagaimana Tangan Kedua Menyelipkan Bias
Bahaya sumber sekunder jarang berupa kebohongan terang-terangan. Kalau begitu, ia mudah ketahuan. Yang lebih sering terjadi adalah pergeseran halus yang tidak terasa sebagai pengkhianatan, padahal ia menggeser arah.
Bentuknya bermacam-macam. Ada kutipan yang dipotong tepat di tempat yang membuat maknanya berbalik, karena kalimat penyeimbang sesudahnya dibuang. Ada terjemahan yang memilih satu padanan kata bermuatan, lalu seluruh nuansanya ikut bergeser. Ada ringkasan yang, demi ringkas, membuang justru syarat dan pengecualian yang menjadi inti pembahasan aslinya. Tidak satu pun dari ini perlu niat jahat. Cukup kelalaian, cukup semangat yang berlebihan, cukup keinginan agar kutipan itu mendukung apa yang sudah lebih dulu kita yakini.
Inilah sebabnya menilai dari tangan kedua itu beresiko: kamu bukan sedang menimbang gagasan aslinya, kamu sedang menimbang bayangannya yang sudah lewat beberapa cermin. Dan kamu tidak pernah tahu cermin mana yang sedikit melengkung. Satu-satunya cara memastikan adalah kembali ke pangkalnya. Membuka teks aslinya bukan formalitas akademik yang berlebihan, ia adalah cara paling jujur untuk menilai, karena di situ kamu menghadapi gagasan apa adanya, bukan gagasan yang sudah dirias atau dirusak oleh perantara.
Karena itulah Islam menuntut kita untuk tidak gegabah berbicara atas sesuatu yang tidak benar-benar kita ketahui:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Wa lā taqfu mā laisa laka bihī 'ilm, innas-sam'a wal-baṣara wal-fu'āda kullu ulā'ika kāna 'anhu mas'ūlā.
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya."
Mengikuti sebuah kutipan yang tidak pernah kamu periksa sumbernya adalah persis “mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui”. Kamu menyangka tahu, padahal yang kamu pegang baru ringkasan ringkasan. Ayat ini mengingatkan bahwa pendengaran dan penglihatan kita akan ditanya: apakah kita meneruskan sesuatu setelah benar-benar memeriksanya, atau hanya karena kebetulan cocok dengan selera kita.
Kenapa Disiplin Ini Penting buat Kita
Buat saya, ini bukan sekadar etika berdebat, melainkan napas dari seluruh cara berpikir yang ingin saya rawat. Kalau kita serius ingin menimbang sesuatu dengan benar, kita tidak bisa menimbang barang palsu lalu mengira sedang menimbang yang asli. Itu melanjutkan apa yang sudah saya bahas di Islam sempurna, pemahaman kita belum tentu: wahyunya memang sempurna, tapi yang sampai ke kita lewat perantara manusia bisa tergelincir di perjalanan, maka tugas kita memverifikasinya kembali ke sumber yang paling murni.
Disiplin sumber ini juga yang menjaga sebuah pembahasan tetap layak dipercaya. Ketika sebuah klaim disertai rujukan yang bisa kamu buka sendiri, kamu tidak diminta percaya pada saya, kamu diundang memeriksa. Itu jauh lebih kuat daripada klaim yang hanya bersandar pada kewibawaan si pengutip. Dan ia menyambung langsung ke cara menimbang yang sehat yang saya uraikan di tiga pilar kebenaran: sebuah gagasan baru pantas diterima setelah lolos diuji, dan ia tak bisa diuji dengan jujur kalau yang kita pegang cuma bayangannya.
Pagar: Menuntut Sumber Asli Bukan Lisensi Merasa Paling Sah
Di sini ada dua jurang yang berlawanan arah, dan pagar ini sengaja memotong keduanya supaya disiplin yang baik tadi tidak berbalik menjadi senjata.
Jurang pertama adalah memakai semangat “baca sumber primer” untuk menolak semua sumber sekunder sekaligus. Ini berlebihan dan justru tidak ilmiah. Ringkasan, syarah, terjemahan, dan penjelasan ulama itu punya tempat yang sah dan sering kali sangat kita butuhkan, karena tidak semua orang sanggup membuka tiap teks asli dalam bahasa aslinya, dan rantai keilmuan memang bekerja lewat perantara yang amanah. Menuntut sumber primer bukan berarti mencurigai setiap perantara, melainkan tahu kapan harus turun ke pangkal ketika sebuah klaim terdengar ganjil atau diperdebatkan. Ini menyambung apa yang saya tulis di apakah ulama maksum: sanad keilmuan itu nyata dan berharga, dan menghargainya tidak bertentangan dengan kebiasaan memverifikasi.
“Sudah baca aslinya” itu modal untuk lebih hati-hati, bukan piala untuk merasa paling absah. Begitu ia berubah jadi piala, ia berhenti jadi ilmu dan mulai jadi kesombongan.
Jurang kedua arahnya berkebalikan, dan ini yang lebih halus serta lebih sering menjangkiti orang yang rajin. Setelah seseorang terbiasa membuka teks asli, mudah baginya merasa paling sah dan mulai meremehkan siapa pun yang belum sempat melakukannya. “Kamu cuma baca terjemahan” berubah dari pengingat menjadi pemukul. Padahal tujuan disiplin ini adalah mendekati kebenaran, bukan memungut alasan untuk merasa di atas orang lain. Orang yang baru memegang ringkasan belum tentu salah kesimpulannya, dan kewajiban kita tetap berbaik sangka serta menolongnya sampai ke sumber, bukan menjadikan ketekunan kita sebagai pedang untuk mempermalukannya. Yang membaca asli dengan hati yang besar akan membukakan pintu, bukan menutup-nutupinya agar ia tampak istimewa sendirian.
Maka peganglah keduanya sekaligus. Turunlah ke sumber primer ketika sebuah klaim penting dan diperselisihkan, karena di situ kamu menilai yang asli dan bukan bayangannya. Tapi simpan ketekunan itu sebagai cara untuk lebih cermat dan lebih rendah hati, bukan sebagai gelar yang kamu pakai untuk menatap rendah orang lain. Disiplin yang sehat membuatmu lebih teliti sekaligus lebih lapang, dan itulah cara menaikkan mutu berpikir yang sudah saya bahas di tingkatan berpikir.