Sebuah unggahan berlatar hitam lewat di linimasa saya, hurufnya tebal dan tegas: “Kamu tetap mendengar dan taat kepada pemimpin. Walau punggungmu dipukul dan hartamu diambil, tetaplah dengar dan taat. (HR Muslim).” Di bawahnya ratusan komentar, sebagian besar mengangguk setuju. Hadisnya sahih, sumbernya disebut, kelihatannya selesai.
Dan memang hadis itu ada, sahih, tidak dibuat-buat. Tapi ada satu pertanyaan sederhana yang jarang diajukan: apakah hadis ini berdiri sendirian, ataukah ia satu kalimat dari percakapan yang lebih panjang yang punya nash-nash lain di sekitarnya? Pertanyaan itu kelihatan kecil, padahal di situlah seluruh kesimpulan ditentukan. Tulisan ini bukan tentang satu hadis tadi saja, melainkan tentang alatnya: cara membaca dalil supaya kita sendiri tahu kapan sebuah nash sedang dipotong.
Mulai dari yang Memang Benar
Saya tidak akan mengutak-atik keabsahan hadisnya, karena ia memang sahih. Diriwayatkan Imam Muslim dari Hudzaifah bin Al-Yaman, dalam konteks Nabi mengajarkan sikap di tengah fitnah dan pemimpin yang tak ideal:
تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
Tasma'u wa tuṭī'u lil-amīr, wa in ḍuriba ẓahruka wa ukhidza māluka, fasma' wa aṭi'.
"Hendaklah engkau tetap mendengar dan menaati pemimpin, walaupun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, maka dengar dan taatlah."
Pesan dasarnya benar dan penting: Islam tidak mengajarkan umat ini gampang ribut, gampang memberontak, gampang menumpahkan darah hanya karena pemimpinnya mengecewakan. Menahan diri dari kekacauan adalah kebaikan, bukan kelemahan. Sampai di titik ini, unggahan tadi sedang berdiri di atas tanah yang sah.
Persoalan baru muncul pada satu lompatan diam-diam: dari “tahanlah dirimu dari memberontak” menjadi “maka diam saja atas apa pun, jangan bertanya, jangan mengoreksi.” Lompatan itu tidak ada di hadisnya. Ia lahir dari satu kebiasaan membaca yang keliru, yaitu membaca satu nash seolah ia satu-satunya nash yang ada.
Alat yang Sering Dilupakan
Di sinilah ilmu para ulama menyiapkan sebuah alat yang sebenarnya sederhana. Mereka menyebutnya, di antaranya, kaidah membawa yang mutlak kepada yang muqayyad, dan yang mujmal (global) kepada yang mufassal (terperinci).
Maksudnya begini, dalam bahasa sehari-hari. Sebuah perintah kadang datang di satu nash tanpa menyebut batas, seolah berlaku dalam segala keadaan. Itu yang disebut mutlak. Tapi sering ada nash lain yang memberi batas atau syarat untuk perintah yang sama. Itu yang disebut muqayyad. Kaidahnya: yang mutlak tadi wajib dibaca bersama yang memberinya batas. Bukan dibuang salah satunya, melainkan dipasangkan.
Ini bukan akal-akalan untuk menghindari dalil. Ini cara kerja yang sama dengan membaca aturan apa pun yang ditulis rapi. Satu pasal undang-undang tidak dibaca lepas dari pasal lain yang menjelaskannya; satu ayat ditafsirkan dengan ayat dan hadis lain; satu hadis dipahami bersama hadis yang serumpun. Yang utuh adalah yang membaca semuanya, bukan yang memungut satu lalu menutup mata pada sisanya.
Menariknya, kaidah ini bukan milik satu kelompok. Ia diajarkan lintas mazhab, bahkan sering dikutip sendiri oleh pihak-pihak yang gemar menyebarkan potongan hadis tadi. Artinya kita tidak sedang membawa timbangan asing. Kita cuma diminta jujur memakai timbangan yang sebenarnya mereka akui juga.
Memakai Alat Itu Sekarang
Mari kita pasang alat itu pada hadis di awal. Perintah “dengar dan taat walau dipukul dan diambil hartamu” tampil tanpa batas, mutlak. Pertanyaannya menurut kaidah tadi: adakah nash lain yang memberinya syarat? Ada, dan justru dari rumpun hadis yang sama tentang ketaatan kepada pemimpin.
Yang pertama, masih dari Imam Muslim, menyebut sebuah syarat yang sering terlewat. Bahkan ketika yang memimpin adalah orang yang paling rendah kedudukannya, perintah taat itu diikat pada satu hal:
وَإِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا
Wa inistu'mila 'alaikum 'abdun yaqūdukum bikitābillāhi fasma'ū lahu wa aṭī'ū.
"Dan sekiranya yang diangkat memimpin kalian seorang budak yang memimpin kalian dengan Kitab Allah, maka dengar dan taatilah dia."
Perhatikan anak kalimat yaqūdukum bikitābillāh, “yang memimpin kalian dengan Kitab Allah”. Itu bukan hiasan. Itu qayd, batas yang menempel pada perintah taat tadi. Pujian “taat walau pemimpinnya seorang budak” ternyata digantung pada satu syarat: selama ia memimpin dengan Kitab Allah. Maka membaca “taat walau dipukul” tanpa membaca “yang memimpin dengan Kitab Allah” adalah persis kesalahan yang dilarang kaidah: mengambil yang mutlak, membuang yang muqayyad.
Dan masih ada batas yang lebih tegas lagi, yang sudah saya bahas tuntas di tulisan lain: hadis sahih “tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah”. Saya tak akan mengulang seluruhnya di sini, karena saya sudah membentangkannya di Taat pada Penguasa. Yang penting buat pembahasan kita: ketika hadis “dengar dan taat” itu dibaca bersama pasangan-pasangannya, kesimpulannya bukan lagi “diam atas apa pun”, melainkan “taat dalam yang makruf, dan tidak ada taat dalam maksiat”.
Bahkan Dari Kalangan yang Sama
Yang membuat contoh ini berharga, koreksinya tidak harus datang dari “seberang”. Ketika potongan hadis “taat walau dipimpin budak” itu disebar sebagai bukti taat tanpa syarat, justru ada penuntut ilmu dari kalangan yang dekat dengannya yang mengingatkan dengan tenang. Ustaz Utsman Zahid As-Sidany menulis kira-kira begini: hadisnya jangan dipotong; hadis yang lain memberikan syarat. Lalu ia menukil sendiri lafal yang menjadi qayd itu, yaqūdukum bikitābillāh, “yang memimpin kalian dengan Kitab Allah”, dan menutupnya dengan ajakan yang adil: “Yuk, kita jujur dalam ilmu.”
Saya kutip beliau bukan untuk menjadikan ini soal siapa lawan siapa, justru sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa membaca dalil secara utuh bukan agenda satu golongan, melainkan tuntutan kejujuran ilmu yang diakui orang-orang berilmu dari berbagai arah. Ketika yang mengoreksi pemotongan dalil adalah orang dari lingkaran yang sama, kita jadi tahu persoalannya memang ada di cara membacanya, bukan di kubu-kubuan.
Kenapa Alat Ini Penting buat Kita
Buat saya, ini lebih besar daripada satu hadis tentang ketaatan. Ini sebuah alat yang sekali kamu pegang, ia berlaku di mana-mana. Pola “ambil satu nash, buang pasangannya” itu mesin yang sama yang saya bahas di Taat pada Penguasa, tempat syarat “selama bukan maksiat” dipotong di ujung kalimat. Mesin yang sama pula di Tawakal Bukan Obat Bius, tempat ajaran tawakal dipisahkan dari pasangannya yang tak terpisahkan, yaitu ikhtiar. Bentuknya beda-beda, cara kerjanya satu: memenggal, lalu menjual penggalan sebagai keseluruhan.
Dan inilah kenapa cara berpikir yang sehat itu ibadah, bukan kemewahan. Seperti saya uraikan di Berpikir Kritis dalam Islam, Islam tidak pernah meminta kita mematikan akal, justru meminta kita membaca dengan jujur dan utuh. Begitu kamu terbiasa bertanya “apakah dalil ini punya pasangan yang membatasinya?”, kamu tidak lagi mudah digiring oleh poster yang rapi tapi separuh. Kamu kembali ke sumber primer dan membacanya sampai habis, bukan sampai potongan yang paling enak dikutip, sebagaimana saya tekankan di Membaca Sumber Primer.
Pagar: Alat untuk Jujur, Bukan untuk Mengakali
Seperti biasa, ada dua jurang di sini, dan saya menolak keduanya.
Jurang pertama adalah membaca setiap nash sendirian, harfiah, lepas dari saudara-saudaranya. Itu yang baru kita bongkar: ia melahirkan kesimpulan yang terasa kuat padahal sudah bergeser dari maksud syariat.
Jurang kedua arahnya berlawanan, dan sama bahayanya: memakai kaidah ini sebagai alasan untuk menolak dalil mana pun yang tidak kita sukai. Orang bisa berkata “ah, ini kan mutlak, pasti ada muqayyad-nya” hanya untuk lari dari nash yang jelas, padahal tidak ada nash lain yang membatasinya. Itu bukan memakai alat, itu menyalahgunakannya. Membawa mutlak kepada muqayyad menuntut adanya qayd yang nyata dari nash lain, bukan dari selera kita. Kalau syaratnya tidak ada, maka yang mutlak tetap pada kemutlakannya.
Yang lurus memegang keduanya: jangan baca satu dalil seolah dunia hanya berisi dalil itu, tapi juga jangan ada-adakan syarat yang nashnya tidak ada. Di antara dua jurang itu berdiri satu sikap yang sederhana dan berat sekaligus, yang sudah dirumuskan oleh penuntut ilmu yang saya kutip tadi dalam empat kata: jujur dalam ilmu. Membaca sampai utuh, lalu menyimpulkan dari yang utuh, bukan dari yang dipenggal.