CC-RankMenyelami · LEVEL
Bedah • 9 November 2026 • 12 mnt baca
Al-Albani dan An-Nabhani · Bagian 4 dari 13

Siapa Al-Ghuraba? Satu Hadis, Dua Pembaca: Al-Albani dan Hizbut Tahrir

Islam bermula asing dan akan kembali asing. Siapa Al-Ghuraba itu? Ucapan Al-Albani dan kitab Hizbut Tahrir dibaca berdampingan, sifat demi sifat.

Siapa Al-Ghuraba? Satu Hadis, Dua Pembaca: Al-Albani dan Hizbut Tahrir
Daftar Isi

Pernahkah kamu menjadi satu-satunya orang di sebuah ruangan yang tidak ikut melakukan sesuatu yang oleh semua orang dianggap wajar? Kamu tidak dimusuhi. Kamu hanya dipandang aneh, dan lama-lama kamu sendiri bertanya: jangan-jangan aku yang keliru?

Ada satu hadis yang menjadikan rasa asing semacam itu kabar gembira. Karena itu pula hadis ini sering dikutip dengan satu kalimat tambahan yang tidak ada di dalamnya: “dan itu kami”. Di tulisan ini kamu kuajak membaca hadis Al-Ghuraba lewat dua pembaca yang sering dipertentangkan, Al-Albani dan kitab terbitan Hizbut Tahrir, lalu kita uji satu hal: hadis itu memberi nama, atau memberi sifat?

Ringkasan 60 detik. Al-Albani dan kitab Hizbut Tahrir membaca hadis Al-Ghuraba dengan daftar sifat yang hampir sama: sedikit, ditentang, dan memperbaiki apa yang dirusak manusia dari sunnah Nabi ﷺ. Keduanya juga sepakat perbaikan itu mencakup seluruh urusan hidup, dan Al-Albani sendiri menyebut tegaknya hukum Allah di bumi. Bedanya ada pada jalan: Al-Albani menolak tanzhim dan kerja kepartaian sebagai jalan sampai, sedangkan kitab HT membaca ikatan Al-Ghuraba sebagai ikatan mabda. Hadisnya sendiri tidak menyebut satu nama pun. Ia menyebut sifat, dan sifat itu bisa kamu pakai untuk menguji siapa saja, termasuk dirimu.

Tulisan ini bagian dari seri Al-Albani dan An-Nabhani, jadi kalau kamu baru datang, mulailah dari sana. Kutipan Al-Albani diambil dari Jami’ Turats Al-Albani fi al-Manhaj (Shamela 145205), himpunan ceramah dan tanya jawabnya, dengan nomor halaman Shamela, supaya kamu bisa membukanya sendiri. Kutipan Hizbut Tahrir diambil dari bab penutup kitab Min Muqawwimat an-Nafsiyyah al-Islamiyyah (edisi Maktabah, bagian mulai hlm. 190).

Hadisnya, dan Dua Jawaban atas Satu Pertanyaan

Hadis pokoknya pendek, dan mungkin kamu sudah hafal:

بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً فطوبى للغرباء

"Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing, maka thuba (kabar gembira) bagi orang-orang yang asing."

Lafaz sebagaimana dikutip kitab Min Muqawwimat an-Nafsiyyah al-Islamiyyah, yang menisbatkannya kepada riwayat Muslim dari Abu Hurairah. Al-Albani menulis tentang hadis ini "رواه مسلم وغيره" dan menyebut takhrijnya ada di Silsilah ash-Shahihah (Shalat al-'Idain fi al-Mushalla, Shamela 11273, ص45).

Lalu para sahabat bertanya: siapa orang-orang asing itu? Dua jawaban berikut dikutip oleh kedua pihak, dengan susunan kata yang sedikit berbeda:

  • Mereka sedikit dan ditentang. Al-Albani mengutipnya “هم أناس قليلون صالحون بين ناس كثيرين، من يعصيهم أكثر ممن يطيعهم”, orang-orang saleh yang sedikit di tengah orang banyak, yang menentang mereka lebih banyak daripada yang menaati mereka (ص119). Kitab HT mengutip “ناس صالحون قليل في ناس سوء كثير من يعصيهم أكثر ممن يطيعهم”.
  • Mereka memperbaiki. Al-Albani mengutipnya “هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي من بعدي”, mereka yang memperbaiki apa yang dirusak manusia dari sunnahku sepeninggalku (ص119). Kitab HT mengutip “الذين يصلحون ما أفسد الناس من بعدي من سنتي”.

Kitab HT menambah satu jawaban lagi, “النزاع من القبائل”, orang-orang yang terlepas dari kabilah-kabilahnya. Riwayat itu belum aku cari di ucapan Al-Albani, jadi aku tidak menyandingkannya di depanmu.

Satu hal perlu kamu pegang sejak awal: di semua jawaban itu tidak ada nama kelompok. Yang ada adalah keadaan (sedikit, ditentang) dan pekerjaan (memperbaiki).

Cara Al-Albani Membacanya

Al-Albani membagi sifat itu menjadi dua lapis. Sedikit dan saleh adalah sifat umum Al-Ghuraba. Memperbaiki sunnah adalah sifat khusus, yang ia sebut “صفة في علماء الغرباء”, sifat pada para ulama Al-Ghuraba (ص119). Di tempat lain seorang penanya mengira Al-Ghuraba adalah orang yang mengajak kepada sunnah, dan ia meluruskan: bukan mengajak, melainkan memperbaiki, sebab “الذين يصلحون هم العلماء، والذين يتابعون هم الأتباع”, yang memperbaiki adalah para ulama, dan yang mengikuti adalah para pengikut (ص392).

Lalu bagaimana orang yang bukan ulama? Jawabannya ada di ص2015: bila seorang ulama memperbaiki dan kamu bukan ahli di bidang itu, “يجب أن تكون معه، أن تكون مستجيباً له في الدعوة فحينئذ تدخل في تهنئة الرسول عليه السلام لهؤلاء الغرباء”, kamu wajib bersamanya dan menyambut dakwahnya, dan saat itu kamu masuk ke dalam ucapan selamat Rasul bagi Al-Ghuraba.

Sampai di sini mungkin kamu menduga Al-Albani memaknai “sunnah” sebatas hadis dan tata cara ibadah. Ucapannya sendiri menolak dugaan itu, dan kamu bisa membacanya langsung:

يصلحون ما أفسد الناس، ليس فقط في العقيدة وفي الفقه والعلم، بل وفي كل شيء من شؤون الحياة، منها الانطلاق لإقامة حكم الله في الأرض، فكما بدأ الرسول عليه السلام يجب نحن أن نبدأ

"Mereka memperbaiki apa yang dirusak manusia, bukan hanya dalam akidah, fiqh, dan ilmu, tetapi juga dalam segala urusan kehidupan, di antaranya bertolak untuk menegakkan hukum Allah di bumi. Maka sebagaimana Rasul 'alaihis salam memulai, kita pun wajib memulai."

Al-Albani, Jami' Turats Al-Albani fi al-Manhaj (Shamela 145205), ص394. Kalimat ini lanjutan dari "معنى الحديث: هم الذين" di akhir ص393.

Jalannya ia sebut di halaman yang sama, dan di sinilah kamu akan melihat titik bedanya. Menurutnya kekuatan dan negara hari ini ada di tangan pihak lain, sehingga yang bisa dikerjakan adalah tiap orang menunaikan dakwah kepada orang di sekitarnya lalu meluaskan lingkarannya sebatas mampu. Tentang sampainya ke tujuan ia berkata: “أما أن نصل فسوف لا يكون بتنظيمنا احنا وتحزيبنا احنا، إنما سيكون ذلك من فضل الله عز وجل علينا”, adapun sampainya kita, itu tidak akan terjadi dengan tanzhim kita dan tahazzub kita, melainkan karena karunia Allah kepada kita. Lalu: “الآن نحن علينا أن نعمل فيما نستطيع”, sekarang kewajiban kita bekerja pada apa yang kita sanggupi (ص394).

Cara Kitab Hizbut Tahrir Membacanya

Bab penutup kitab Min Muqawwimat diberi judul dari hadis itu sendiri: “طوبى للغرباء، يُصلحون ما أفسد الناس”. Isinya daftar sifat, masing-masing dengan riwayatnya: memperbaiki ketika manusia rusak, sedikit, beraneka asal (“قوم من أفناء الناس”, dan dalam satu riwayat “من بلدان شتى”, dari berbagai negeri), saling mencintai dengan “ruh Allah”, dan meraih kedudukan itu tanpa menjadi syuhada.

Tiga kalimat dari bab itu perlu kamu baca langsung, karena kesimpulanmu nanti bertumpu di sana.

Pertama, apa yang dirusak. Kitab itu menulis: “فالغرباء ليسوا الصحابة لأنهم يأتون بعد أن يفسد الناس طريقة محمد ﷺ في العيش”, Al-Ghuraba bukanlah para sahabat, karena mereka datang setelah manusia merusak cara hidup Muhammad ﷺ. Jadi “sunnahku” dibaca sebagai cara hidup, bukan satu cabang ilmu.

Kedua, apa yang mengikat mereka. Riwayatnya berbunyi mereka saling mencintai dengan rauhillah, tanpa hubungan rahim di antara mereka dan tanpa harta yang saling mereka berikan. Kitab itu menafsirkannya:

أي أن الذي يربط بينهم هو مبدأ الإسلام لا غير، ولا تربط بينهم أية رابطة أخرى، لا رابطة نسب أو قرابة، ولا رابطة مصلحة أو منفعة دنيوية

"Yakni yang mengikat mereka adalah mabda Islam, bukan yang lain. Tidak ada ikatan lain yang mengikat mereka: bukan ikatan nasab atau kekerabatan, bukan pula ikatan maslahat atau manfaat duniawi."

Hizbut Tahrir, Min Muqawwimat an-Nafsiyyah al-Islamiyyah, bab 16 (edisi Maktabah, bagian mulai hlm. 190). Ini syarah penulis kitab atas riwayat, bukan lafaz hadis.

Ketiga, batasnya. Kitab itu mengingatkan: “ميزة الغربة ليست أفضل من ميزة الصحبة”, keistimewaan asing tidak lebih utama daripada keistimewaan bersahabat dengan Nabi. Dan bab itu ditutup dengan ajakan kepada siapa saja yang membacanya: “ومن تدبّرها كان حرياً أن يسارع إلى حجز منبر قدام الرحمن تعالى، لعله سبحانه يرحم غربته ويحقق رغبته”, siapa yang merenungkannya pantas bersegera memesan satu mimbar di hadapan Ar-Rahman, semoga Dia merahmati keterasingannya dan mewujudkan keinginannya.

Tiga Hal yang Sama

Letakkan dua bacaan itu berdampingan, lalu kamu periksa sendiri.

  1. Sifatnya sama. Sedikit, ditentang, dan memperbaiki. Dua riwayat yang dipakai Al-Albani dipakai juga oleh kitab HT.
  2. Zamannya sama. Keduanya membaca hadis ini untuk keadaan setelah sunnah dirusak. Al-Albani menyebut Islam hari ini sedang asing, dan kitab HT menegaskan Al-Ghuraba datang sesudah masa sahabat.
  3. Cakupannya sama. Inilah yang paling jarang kamu temui di perdebatan. Al-Albani tidak membatasi perbaikan pada akidah dan fiqh. Ia memasukkan seluruh urusan hidup dan menyebut tegaknya hukum Allah di bumi. Kitab HT menyebutnya cara hidup Muhammad ﷺ.

Yang diperselisihkan bukan apa yang harus diperbaiki. Yang diperselisihkan adalah dari mana memulai dan dengan apa orang-orangnya diikat.

Satu Hal yang Berbeda: Jalannya

Al-Albani memulai dari tashfiyah, memurnikan sunnah, dan menaruh pekerjaan memperbaiki pada para ulama. Ia menolak tanzhim dan tahazzub sebagai jalan sampai, dan menyerahkan sampainya kepada karunia Allah sesudah tiap orang mengerjakan yang ia sanggupi.

Kitab HT membaca ikatan Al-Ghuraba sebagai ikatan mabda. Di bab yang sama ia membedakan “الاجتماع على ذكر الله” dari “الاجتماع لذكر الله”: yang pertama adalah ikatan yang tetap mengikat entah mereka duduk bersama atau berpisah, sedangkan yang kedua selesai ketika majelisnya bubar.

Ilustrasi dua lingkaran yang dihubungkan dua jalan. Lingkaran kiri berlabel sifat: sedikit, ditentang, memperbaiki. Lingkaran kanan berlabel cakupan: seluruh urusan hidup. Jalan atas bertuliskan Al-Albani: mulai dari yang disanggupi, bukan lewat tanzhim. Jalan bawah bertuliskan kitab HT: ikatan mereka dibaca sebagai mabda Islam.
Sifat dan cakupannya sama. Yang berbeda jalannya.

Perbedaan ini bukan hal baru di seri ini. Ia sama dengan yang ditemukan di Jalan Rasul di Makkah dan Menunda Politik Sampai Kapan?: tujuannya disebut keduanya, sedangkan kerja politik berjamaah ditunda oleh yang satu dan dikerjakan oleh yang lain.

Di sini ada dua hal yang harus kamu timbang dengan adil, satu untuk tiap pihak, dan aku mulai dari kitab HT.

Untuk bacaan kitab HT. Hadisnya berbunyi “saling mencintai karena Allah”. Bahwa ikatan itu berarti mabda, dan bahwa mabda menuntut satu jamaah yang terikat, adalah syarah kitab itu. Riwayatnya tidak menyebut partai. Maka sifat “berhimpun dari berbagai negeri” tidak bisa kamu pakai begitu saja untuk memenangkan satu kelompok.

Untuk bacaan Al-Albani. Ia sendiri memasukkan tegaknya hukum Allah ke dalam makna “memperbaiki”, lalu menyatakan bahwa hari ini yang sanggup dikerjakan adalah dakwah kepada orang sekitar. Maka menurut ucapannya sendiri, bagian itu belum dikerjakan sampai selesai. Dan kalimat “sampainya bukan dengan tanzhim kita” adalah penimbangannya; hadis ini tidak menyebut tanzhim, baik untuk memerintahkannya maupun untuk menolaknya.

Hadis Ini Memberi Sifat, Bukan Nama

Sekarang kembali ke pertanyaan di awal. Siapa yang menambahkan kalimat “dan itu kami”?

Di bab kitab HT yang aku baca, kalimat semacam itu tidak ada, dan kamu bisa memeriksanya di halaman yang kusebut tadi. Bab itu berhenti pada daftar sifat dan ajakan umum.

Dalam ucapan Al-Albani, kalimat itu ada. Dalam satu dialog ia berkata bahwa orang yang berpegang pada satu dari empat mazhab tidak tepat disebut Al-Ghuraba, sebab menurutnya pekerjaan memperbaiki sunnah hanya ia dapati pada kalangan yang di Mesir disebut Ansharus Sunnah, di India dan Pakistan disebut Ahlul Hadits, dan di Yordania dan Suriah disebut Salafi. Ia lalu berharap para ulama dan penuntut ilmu “أن يكونوا غرباء أمثالنا”, menjadi orang-orang asing seperti kami (ص2013 sampai 2014). Di dialog lain ia berkata “فإذاً نحن الغرباء علينا أن نتعاون غاية وأسلوباً”, maka kita, orang-orang asing ini, wajib saling menolong dalam tujuan dan cara (ص1485).

Ada juga yang memakai hadis ini ke arah sebaliknya. Seorang penanya menyebutnya penjelasan penting “للدعاة الذين يشكلون تلك الأحزاب والجماعات”, bagi para dai yang membentuk partai dan jamaah. Al-Albani menajamkannya: yang tepat, kata dia, mereka tidak menaruh di depan mata dakwah kepada Al-Kitab dan “تصفية السنة”, pemurnian sunnah (ص393).

Apa akibatnya bila sebuah sifat diubah menjadi nama? Coba kamu bayangkan. Begitu hadis ini menjadi daftar anggota, selalu ada muslim yang dicoret: pengikut mazhab di satu sisi, anggota jamaah dakwah di sisi lain. Pola itu sudah dibahas di episode tentang pola melabeli, dan ia berlaku juga untuk label yang baik. Menyematkan gelar mulia pada diri sendiri adalah cermin dari menyematkan cap buruk pada orang lain.

Maka kehati-hatian yang sama berlaku ke dua arah. Kalau kamu pengikut Al-Albani, ucapannya sendiri memberi ukuran: yang memperbaiki adalah ulama, pengikut masuk dengan menyambut dakwahnya, dan perbaikan itu mencakup hukum Allah yang belum tegak. Klaim “kami sudah sesuai sunnah” sah sebagai klaim manhaj, yaitu berpegang pada Al-Qur’an dan sunnah menurut pemahaman salaf (ص119). Ia belum bisa menjadi klaim bahwa perbaikannya sudah tuntas. Kalau kamu dekat dengan pemikiran HT, daftar sifat di kitab itu mudah sekali dibaca sebagai potret diri. Ukurannya tetap pekerjaan: bagian mana dari sunnah yang sedang kamu perbaiki, dan apa buktinya?

Tiga Pertanyaan untuk Menguji Siapa Saja

Ambil tiga sifat itu sebagai alat uji, dan kamu mulai dari dirimu sendiri, bukan dari orang lain.

  1. Apa yang sedang diperbaiki? Sebut bagiannya: ilmu hadis, akidah, akhlak, muamalah, atau aturan yang mengatur hidup bersama. Orang yang tidak bisa menyebut bagiannya baru merasa asing, belum memperbaiki.
  2. Apakah ia menanggung akibatnya? Hadisnya menyebut yang menentang lebih banyak daripada yang menaati. Tetapi ditentang bukan bukti benar. Banyak kekeliruan juga ditentang orang banyak. Sifat kedua hanya bermakna bila sifat pertama sudah terbukti.
  3. Apa yang mengikatnya dengan orang lain yang memperbaiki? Kecintaan karena Allah, menurut hadisnya. Kalau yang mengikat ternyata nama kelompok, guru, atau kepentingan, ikatan itu lepas begitu salah satunya berganti.

Yang Belum Aku Baca

Biar kamu tahu batas tulisan ini:

  • Derajat tiap riwayat tidak aku periksa sendiri. Yang kutulis adalah penilaian yang disebut masing-masing sumber: Al-Albani menyebut riwayat-riwayat yang ia pakai sahih (ص118), dan kitab HT menyebut penilaian At-Tirmidzi dan Al-Haitsami atas riwayat yang ia kutip.
  • Riwayat “النزاع من القبائل” belum aku cari di ucapan Al-Albani.
  • Ucapan Al-Albani dikutip dari himpunan ceramah dan tanya jawab. Konteks tiap dialog berbeda, dan kalimat tentang mazhab di atas diucapkan dalam satu percakapan tentang dakwah salafiyah.
  • Kitab HT lain yang mungkin membahas hadis ini tidak aku baca. Kesimpulan “tidak menamai diri” hanya berlaku untuk bab yang kukutip.
Infografis hadis Al-Ghuraba dibaca dari ucapan Al-Albani dan kitab Hizbut Tahrir: sifatnya sama, cakupannya sama, jalannya berbeda, ditambah catatan bahwa hadis itu memberi sifat dan bukan nama, serta tiga pertanyaan uji.
Satu hadis, dua pembaca.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Siapa Al-Ghuraba menurut hadis?

Hadisnya menjawab dengan sifat. Dalam riwayat yang dikutip Al-Albani dan kitab Hizbut Tahrir, mereka adalah orang saleh yang sedikit di tengah orang banyak, yang menentang mereka lebih banyak daripada yang menaati, dan mereka memperbaiki apa yang dirusak manusia dari sunnah Nabi ﷺ.

Apakah Al-Ghuraba itu kelompok tertentu?

Tidak ada nama kelompok dalam riwayat yang dikutip di sini. Al-Albani menerapkannya pada kalangan yang memperbaiki sunnah dan menyebut diri serta kawan-kawannya “ghuraba”. Bab kitab Hizbut Tahrir yang dibaca di sini tidak menamai kelompok mana pun.

Apakah “sunnah” dalam hadis ini hanya soal hadis dan ibadah?

Menurut dua sumber ini, tidak. Al-Albani menyebut perbaikan itu mencakup seluruh urusan hidup, termasuk tegaknya hukum Allah di bumi. Kitab Hizbut Tahrir menyebutnya cara hidup Muhammad ﷺ. Jadi kamu tidak bisa menyempitkannya ke ritual saja.

Kalau aku merasa asing karena menjalankan agama, apakah aku termasuk Al-Ghuraba?

Rasa asing saja belum cukup menurut dua bacaan ini. Sifat yang disebut hadis adalah memperbaiki, dan Al-Albani menambahkan bahwa yang bukan ulama masuk dengan menyambut dakwah orang yang memperbaiki. Kedudukan itu sendiri urusan Allah; yang bisa kamu periksa hanyalah pekerjaannya.

Apakah tulisan ini ajakan bergabung ke suatu kelompok?

Bukan. Tulisan ini eksplorasi pemikiran. Kamu diajak membaca teks kedua pihak dan menimbangnya sendiri.

Kalau hadis ini memberi sifat dan bukan nama, menurutmu bagian mana dari sunnah Nabi ﷺ yang hari ini paling rusak dan paling sedikit orang yang memperbaikinya?

Penulis
Raja Baya

Menulis dari bayang. Pesta sejati ada di hati yang sadar.

Tulisan ini adalah eksplorasi pemikiran dan diskusi akademis-keagamaan. Tidak bertujuan rekrutmen organisasi apapun. Pembaca diharapkan berpikir kritis dan merujuk sumber primer.
← Kembali ke semua artikel