Tiap kali keadaan terasa berat, harga mencekik, atau ada ketidakadilan yang nyata, ada satu jenis nasihat yang turun seperti hujan: “Zaman memang makin buruk, itu sudah disabdakan Nabi. Sudah, sabar saja. Jangan banyak protes, perbaiki diri sendiri dulu. Sabar itu tanda iman, banyak menuntut itu tanda lemah iman.” Diucapkan dengan teduh, dan biasanya membuat orang malu untuk bersuara lagi.
Dan seperti biasa, persoalannya halus. Nasihat itu dibangun di atas kebenaran yang kokoh. Sabar memang mulia, zaman memang sering memburuk, dan memperbaiki diri memang wajib. Yang perlu kita periksa bukan sabarnya, melainkan untuk apa kata itu dipakai. Karena ada jarak yang jauh antara menahan diri dengan teguh dan mematikan rasa sampai tak lagi peduli, dan jarak itulah yang sering diam-diam dihapus.
Mulai dari yang Memang Benar
Saya tidak akan mengutak-atik keutamaan sabar, karena ia memang di antara akhlak yang paling tinggi nilainya. Sabar adalah satu-satunya amal yang pahalanya disebut tanpa takaran:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Innamā yuwaffaṣ-ṣābirūna ajrahum bighairi ḥisāb.
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."
Dan benar pula bahwa Nabi mengajarkan sabar bahkan di bawah penguasa yang zalim, ketika sebagian tabiin mengadukan kekejaman seorang gubernur yang terkenal keras. Sahabat Anas bin Malik tidak mengarahkan mereka untuk memberontak dengan gegabah, melainkan berkata:
Bersabarlah kalian, karena tidaklah datang suatu zaman melainkan yang setelahnya lebih buruk darinya, sampai kalian bertemu Rabb kalian. (HR Bukhari)
Nasihat ini sungguh-sungguh ada, dan hikmahnya dalam. Banyak kerusakan besar dalam sejarah justru lahir ketika orang berusaha melenyapkan satu kemungkaran dengan cara yang melahirkan kemungkaran yang jauh lebih besar. Sabar di sini adalah penjaga agar amarah yang sah tidak meledak menjadi kekacauan yang menelan korban lebih banyak. Sampai di titik ini, nasihat untuk bersabar adalah kebaikan yang nyata.
Persoalan baru muncul pada satu lompatan diam-diam: dari “sabar agar tidak gegabah” menjadi “diam saja, jangan peduli, dan jangan pernah mempersoalkan apa pun.” Lompatan itu tidak pernah ditulis terang-terangan, tapi sering itulah yang dimaui dan ditangkap.
Sabar Itu Menahan Diri, Bukan Mematikan Rasa
Di sinilah pangkal kekeliruannya. Sabar adalah menahan diri agar tetap teguh di atas kebenaran, bukan membunuh kepekaan sampai kezaliman terasa biasa. Buktinya, ulama yang menjelaskan hadis Anas tadi justru menegaskan bahwa perintah sabar di situ bukan berarti menyetujui kezaliman atau menganggapnya baik. Sabar yang dimaksud adalah tetap berpegang pada agama dan tetap melakukan amar makruf nahi mungkar dengan cara yang benar, sambil tidak menempuh jalan perusakan. Jadi di dalam perintah sabar itu sendiri sudah terkandung kewajiban untuk tetap peduli dan tetap bersuara, bukan untuk mematikannya.
Itu sebabnya di dalam Al-Quran, sabar hampir tak pernah berdiri sendirian sebagai sikap pasif. Ia datang berpasangan dengan menegakkan kebenaran:
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Illalladzīna āmanū wa 'amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣaw bil-ḥaqqi wa tawāṣaw biṣ-ṣabr.
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."
Perhatikan, sabar diletakkan tepat di sebelah “saling menasihati untuk kebenaran”. Keduanya satu paket. Orang yang sabar sejati adalah orang yang tetap menyuarakan kebenaran sambil tahan banting menghadapi akibatnya, bukan orang yang menelan kebenaran lalu pura-pura tidak melihat. Sabar adalah daya tahan untuk terus berbuat benar dalam jangka panjang, bukan izin untuk berhenti berbuat apa-apa.
Maka menolak kemungkaran tidak pernah gugur oleh perintah sabar. Nabi justru mewajibkan kita mengubah kemungkaran sesuai kemampuan: dengan tangan, kalau tidak mampu dengan lisan, dan kalau tidak mampu juga maka dengan hati, dan yang terakhir itu disebut selemah-lemah iman (HR Muslim). Perhatikan, bahkan pilihan yang paling lemah pun tetap berupa penolakan di dalam hati, bukan menganggap kemungkaran sebagai hal biasa. Hati yang berhenti mengingkari kezaliman bukanlah hati yang sabar, ia hati yang sudah mati rasa.
Ketika Sabar Berubah Jadi Mati Rasa
Di sini perlu dibedakan dua hal yang dari luar tampak serupa: sabar dan mati rasa. Keduanya sama-sama tidak meledak-ledak. Tapi yang sabar tidak meledak karena ia menahan diri sambil tetap peduli, tetap menasihati, tetap berharap pada perbaikan. Sedangkan yang mati rasa tidak meledak karena ia memang sudah berhenti merasa, berhenti peduli, dan menerima kezaliman sebagai cuaca yang tak perlu dipersoalkan. Yang pertama adalah kekuatan, yang kedua adalah kematian pelan-pelan yang dipakaikan jubah ketakwaan.
Maka ketika seseorang memakai kata “sabar” untuk menyuruh orang lain berhenti peduli, berhenti bertanya, dan menerima ketidakadilan tanpa suara, ia sedang memindahkan kata itu dari tempatnya. Sabar yang asalnya menjadi bahan bakar untuk bertahan dalam kebaikan, dibengkokkan menjadi obat tidur yang mematikan kepekaan. Dan benar seperti tadi, yang berbahaya justru karena bahannya asli: orang sungkan menolaknya, sebab menolaknya terasa seperti menolak keutamaan sabar itu sendiri. Padahal tidak. Kamu cukup mengembalikannya ke tempatnya, yaitu tahan menghadapi kesulitan dengan teguh, sambil hatimu tetap hidup dan suaramu tetap pada kebenaran.
Kenapa Ini Penting buat Kita
Buat saya, pola ini sudah sangat kita kenal di seri ini. Di Qana’ah Bukan Pasrah pada Zalim, kepuasan hati dilebarkan jadi diam atas kezaliman. Di Tawakal Bukan Obat Bius, “rizki dijamin” dipakai menyuruh berhenti berikhtiar. Di Taat pada Penguasa, dalil ketaatan dipotong dari syaratnya. Sekarang sabar dilebarkan dari ketahanan menjadi ketumpulan. Bentuknya berbeda-beda, mesinnya satu: sebuah kebenaran diambil separuh, lalu dipakai untuk membuat orang berhenti bersikap. Alat ushul untuk membongkar pemotongan dan pelebaran semacam ini saya bahas tersendiri di Mutlak dan Muqayyad.
Dan itulah kenapa cara berpikir yang sehat penting, sebagaimana saya uraikan di Berpikir Kritis dalam Islam. Iman yang benar tidak pernah meminta kita memadamkan hati nurani. Sabar yang hidup justru melahirkan orang yang paling tahan berjuang dalam jangka panjang, karena ia tidak mudah patah dan tidak mudah putus asa. Orang yang sabarnya benar bukan orang yang paling cepat menyerah, melainkan orang yang paling lama bertahan di atas kebenaran. Maka sabar yang sejati bukan memadamkan kepedulian, ia justru yang membuatnya awet.
Pagar: Bukan Berarti Gegabah, Bukan Pula Mati Rasa
Seperti biasa, ada dua jurang di sini, dan saya menolak keduanya.
Jurang pertama adalah yang baru kita bahas: memakai sabar sebagai alat untuk mematikan rasa, menyuruh orang berhenti peduli, dan menormalkan kezaliman dengan dalih “sudah, terima saja, zaman memang makin buruk”. Itu memindahkan sabar dari tempatnya dan menggugurkan kewajiban menolak kemungkaran yang justru tetap melekat sampai ke dalam hati.
Jurang kedua berlawanan arah, dan ia sama berbahayanya: menjadikan semangat “tidak mau diam” sebagai pembenar untuk gegabah, anarkis, merusak, menghasut, atau menuduh sosok tertentu secara serampangan. Justru di sinilah hikmah hadis Anas tadi berdiri: menolak kemungkaran punya adab dan caranya yang benar, dan menempuh jalan perusakan sering melahirkan kemungkaran yang lebih besar dari yang hendak dilenyapkan. Seperti saya tegaskan di tulisan-tulisan sebelumnya, bukan tugas saya di sini memvonis siapa pun; yang saya timbang adalah cara sebuah kata dipakai, bukan pribadi orangnya.
Yang lurus memegang keduanya sekaligus: hati yang tetap hidup dan peduli, suara yang tetap pada kebenaran dengan cara yang benar, sambil dada yang lapang dan tahan banting menghadapi kesulitan tanpa putus asa dan tanpa gegabah. Sabar seperti ini bukan mati rasa dan bukan pula amukan. Ia adalah daya tahan yang panjang untuk terus berdiri di atas yang benar, justru karena ia tahu pahala kesabaran dijanjikan tanpa batas oleh Allah.